Tips Menghadapi Kendala Disiplin K3 untuk Menggunakan APD

0
858

Tahukah Anda? Pekerja di lapangan seringkali melupakan atau malah sengaja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Ada berbagai alasan dibalik kebiasaan tersebut, mulai dari ketidaknyamanan, merasa ada keterbatasan ruang gerak, kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya APD ketika bekerja, tidak memiliki APD, atau sengaja tidak mengenakan APD karena yakin tidak akan terjadi kecelakaan / faktor ego.

Padahal di Indonesia, jumlah kecelakaan kerja setiap tahunnya masih terhitung tinggi dan jumlahnya pun semakin meningkat. Berdasarkan data dari Menteri Ketenagakerjaan Indonesia, disebutkan bahwa sepanjang tahun 2018, telah terjadi 157.313 kasus kecelakaan kerja. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebesar 123.000 kasus.

Oleh karena itu, para pekerja yang tidak menggunakan APD beresiko mendapatkan cedera yang lebih serius, sehingga kelalaian tersebut dapat berujung penuntutan dari pihak korban serta kerugian finansial bagi perusahaan. Selain itu, resiko terburuknya juga dapat merenggut nyawa. Jadi, bagaimana cara agar pekerja terus memiliki kesadaran untuk menggunakan APD setiap bekerja?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, pertama-tama pahami dulu apa saja yang termasuk alat pelindung diri. Sebetulnya APD dapat mencakup semua bagian tubuh, dimulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian keamanan yang termasuk dalam APD antara lain helm, pelindung di wajah (termasuk kacamata & masker), pelindung telinga (pendengaran), pelindung pernafasan (respirator), sarung tangan safety, pelindung ketinggian (safety harness), pelindung kaki (sepatu safety), pelindung tubuh, jas, pelampung, sabuk pengaman, rompi dan lain-lain.

Biasanya, pekerja yang merasa risih menggunakan APD, tentunya dikarenakan APD yang digunakan dirasa mengganggu penampilan, ukuran yang tidak pas, ataupun faktor panas / gerah. Untuk itu, dari sisi kedisiplinan pekerja, pihak penyedia tenaga kerja perlu membudayakan penggunaan APD melalui berbagai macam training, acara, maupun penyediaan supervisor lapangan. Selain itu, hal-hal mengenai penekanan manfaat dan pentingnya APD tidak dapat diabaikan dan menjadi satu-satunya alat penyelamat diri ketika bekerja.

Sering ditemui di lapangan bahwa pekerja lapangan masih jarang mendapatkan training tentang pentingnya APD, kapan penggunaannya, dan cara penggunaannya.  Oleh karena itu, training dan pemberian materi tentang penggunaan dan pentingnya APD, termasuk cara penggunaan yang tepat sangat penting dilakukan. Apabila sosialisasi sudah dijalankan namun kurang menimbulkan kesadaran, maka buatlah peraturan serta kewajiban mengenakan APD. Bagi pekerjabaru, pastikan budaya yang diterapkan di perusahaan mengacu pada disiplin K3. Selain itu, segala peraturan mengenai APD perlu menggunakan komunikasi yang interaktif sehingga tidak terjadi kekeliruan maupun penolakan dari pihak pekerja. Dalam hal ini, penolakan dan budaya menjadi faktor utama pekerja malas menggunakan APD sehingga hal tersebut perlu dibenahi sebaik-baiknya.

Dalam aplikasinya, perusahaan dapat menerapkan disiplin kerja seperti contohnya pekerja sudah harus hadir sekitar 30 menit sebelum bekerja untuk melakukan pemasangan APD, safety check, maupun pengetahuan dini mengenai area berbahaya (dangerous / hazardous zone). Dengan bekal informasi dan kelengkapan alat safety yang sudah terpenuhi, maka perusahan dapat meminimalisir angka kecelakaan kerja.

Langkah selanjutnya adalah lakukan pemantauan terhadap faktor ego pekerja. Karena hal tersebut dapat berdampak baik bagi pekerja tersebut maupun pekerja lain di sekitarnya. Mereka yang suka melepas APD / tidak menggunakan APD mungkin beranggapan bahwa mereka sudah mahir dalam bekerja sehingga tidak memerlukan APD. Lakukan sosialisasi maupun panggilan terhadap pekerja tersebut secara privat dan nyatakan bahwa hal tersebut benar-benar keliru. Kecelakaan kerja bersifat tidak dapat diprediksi, baik kecelakaan ringan maupun berat dan tidak ada yang tahu kapan datangnya.

Dari segi reminder, pemasangan spanduk atau umbul-umbul mengenai standar prosedur K3 juga perlu diletakkan di beberapa titik rawan pada lokasi kerja. Tujuannya adalah sebagai pengingat agar pekerja menerapkan penggunaan APD tersebut. Hal ini cukup mudah dilakukan dan dapat berdampak positif.

Contoh poster K3 di lingkungan kerja

Penyesuaian APD untuk Meningkatkan Disiplin K3

Dalam memilih alat pelindung diri atau pakaian safety terbaik, tentunya perusahaan dapat mempertimbangkan kualitas dari APD tersebut. APD yang berkualitas berdampak positif pada tingkat keamanan dan kenyamanan pekerja. Selain kualitas material dan daya tahan, desain yang fungsional namun tetap kece dapat ditemui pada penyedia APD saat ini.

Alat Pelindung Diri yang lengkap dan berkualitas dapat Anda dapatkan di klikMRO. Selain itu, bagi Anda yang baru ingin memulai menyediakan peralatan APD, dapat berkonsultasi secara gratis dengan engineer klikMRO untuk menentukan APD mana yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Bukan Hanya Sekedar Tanda, Ini Hal Penting dalam Prosedur LOTO