Tingkatkan Kualitas Produk dengan Testing Equipment

0
475
middle aged worker

Inspeksi adalah suatu kegiatan penilaian terhadap suatu produk, apakah produk itu baik atau rusak ataupun untuk penentuan apakah suatu produk dapat diterima atau tidak berdasarkan metode & standard yang sudah ditentukan. Dengan kata lain inspeksi adalah kegiatan operasional untuk memeriksa material atau part yang diperlukan oleh proses produksi untuk dapat memenuhi spesifikasi pada proses berikutnya atau memenuhi spesifikasi pelanggan sebelum produk tersebut dikirim. Inspeksi mencakup pengukuran material, part-part atau produk jadi dengan metode tertentu dan membandingkan hasilnya dengan standard (drawing, JIS, dsb).

Pengukuran yang dimaksudkan disini, tidak hanya bersifat dimensional (vernier caliper, micrometer, dsb) ataupun pengujian properties (hardness serta komposisi kimia) tetapi juga sensory (noise check , visual check : noda dan crack). Disinilah Testing Equipment sangat penting untuk melakukan pengukuran dan mengecek apakah peralatan dalam pabrik tersebut sudah layak digunakan atau belum. Testing / Pengujian adalah pelaksanaan pengecekan berbagai sifat properties dan karakteristik produk seperti pengukuran dimensinya, kekuatan material dan komposisinya. Inspeksi merupakan bagian yang penting bagian yang penting dari Quality Control / Pengendalian Mutu & kegiatan jaminan kualitas.

Fungsi Inspeksi / Pemeriksaan :

  1. Fungsi Assurance :

Maksudnya adalah kegiatan pemeriksaan tiap-tiap part / lot dan membandingkan hasilnya dengan Judgement Standard untuk p enentuan keberterimaan part / lot tersebut sebelum pengiriman selanjutnya. Fungsi Assurance ini akan berhasil dengan baik apabila ada : metode, sistem, standard & judgement inspeksi, keakurasian peralatan inspeksi, training dan pendidikan inspector yang baik serta adanya kriteria yang jelas terhadap penanganan part/lot yang diperiksa.

  1. Fungsi Preventif :

Inspeksi yang ketat dapat mendeteksi ketidaksesuaian part / NG dan memisahkannya dari part yang sesuai / OK, tetapi tetap saja tidak dapat mencegah ketidaksesuaian part tersebut untuk tetap diproduksi. Untuk menghilangkan ketidaksesuaian part, adalah diperlukan untuk mengontrol proses produksi dan menentukan penyebabnya serta mengambil tindakan  yang diperlukan.

Ketika ditemukan ketidaksesuaian produk, berdasarkan data seharusnya langsung diberikan feedback pada proses terkait sehingga ketidaksesuaian produk tidak terus diproduksi. Hal ini dinamakan fungsi Preventive yang merupakan fungsi yang paling diperlukan dalam Quality Control namun seringkali kurang dimanfaatkan. Untuk optimalisasi fungsi preventive ini, maka bagian inspeksi seharusnya secara rutin memberikan data feedback dari part yang diperiksa dari kegiatan Quality Control kepada bagian terkait mis : desain, engineering dan produksi, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah. Supaya data feedback bisa efektif, methode pengumpulan data dan prosedur feedback dari bagian inspeksi terhadap bagian desain, engineering dan produksi perlu diatur lebih rinci, misalnya: Instruksi kerja, SOP, Prosedure ISO, dsb.

Sebagaimana diungkapkan “Quality is Built in Process” , kualitas tidak bisa hanya diperoleh dengan melakukan proses inspeksi. Tujuan dari pemeriksaan dalam Quality control mulai dari material mentah, blanks sampai pengiriman adalah memastikan bahwa kualitas dibangun dalam tiap proses dan tidak hanya men “sortir” part kedalam OK atau NG dan menjamin part NG tidak terus diproduksi. Quality Control sama-sama penting untuk tetap melaksanakan pemeriksaan sampling dan juga memastikan bahwa “Kualitas“ telah dibangun di setiap proses produksi. Yaitu dengan cara melakukan kontrol proses produksi dengan menggunakan Bagan Kendali / Control Chart dll dan berdasarkan analisa data yang diperoleh, memastikan bahwa part NG tidak akan terus diproduksi.

Untuk mencapai hal ini, analisa capability proses, control limit proses, daily quality inspection, effective corrective action dan berbagai aktivitas lainnya diperlukan sehingga penyebab dari ketidaknormalan proses produksi dapat dideteksi dan diambil langkah-langkah untuk mengatasinya. Kemudian, tindakan-tindakan perlu dilakukan untuk mencegah ketidaksesuaian produk yang berulang sehingga mendapat kestabilan proses dan menjadikan produk memiliki variasi yang sedikit mungkin.

Cegah Kebakaran dengan 7 Tips Memaksimalkan Fungsi Circuit Breaker

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here