Strategi Penggunaan APD dalam Kegiatan Operasional dan Produksi

0
80

Strategi Penggunaan APD dalam Kegiatan Operasional dan Produksi – Dimulainya kembali berbagai kegiatan yang terhenti sejenak di masa pandemi COVID-19 bukan berarti masyarakat bisa lengah. Penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan hal yang penting untuk diperhatikan bagi setiap pekerja. Dalam kegiatan industri misalnya, penggunaan APD semestinya sudah diterapkan bahkan ketika tidak ada pandemi sekalipun. 

Namun, tidak jarang ditemui para pekerja yang enggan menggunakan APD, padahal hal tersebut adalah untuk kepentingan dirinya sendiri. Mungkin mereka menolak untuk mengenakan seragam kerja, meninggalkan kacamata pengaman di loker, atau mendapatkan banyak surat peringatan karena tidak mengenakan sepatu pengaman. Mereka tidak menyadari bahaya apabila tidak memakai alat pelindung diri (APD). Atau karena merasa sudah terbiasa sehingga menganggap sepele penggunaan APD. Namun sebenarnya, pekerja seperti ini sedang menempatkan diri mereka sendiri dan orang lain dalam risiko karena tidak melindungi diri dengan benar di tempat kerja.

Strategi Penggunaan APD dalam Kegiatan Operasional dan Produksi – Kimberly-Clark Coverall di klikMRO.com

Pertanyaannya adalah mengapa para pekerja tersebut tidak mau mengenakan APD mereka? Dan bahaya apa yang mereka hadapi sebagai akibat dari tindakan ini?

Alasan Pekerja Tidak Mengenakan APD

Alat Pelindung Diri (APD) diciptakan sebagai garis pertahanan terakhir bagi pekerja dalam mencegah cedera di tempat kerja atau masalah yang berhubungan dengan kesehatan, di mana bahaya dapat bersembunyi di setiap sudut. Hal-hal seperti benda jatuh, tergores besi, udara yang terkontaminasi, bahan kimia, sengatan listrik, dan kebisingan hanyalah segelintir bahaya yang dapat dibantu dilindungi oleh APD.

Menyadari adanya bahaya-bahaya seperti ini, mengapa para pekerja terkadang menganggap sepele dan tidak mau mengenakan APD? Pertama, alasan seperti tidak nyaman digunakan, terlalu panas, atau ukurannya yang salah, bisa menjadi penyebab utama. Kenyamanan pekerja adalah faktor yang cukup krusial. Untuk menghindari masalah ini, sebaiknya pilihlah APD yang tidak hanya sesuai untuk bahaya yang dihadapi, tetapi juga nyaman secara fisik. Ukuran juga penting, jadi pastikan para pekerja memakai ukuran yang pas untuk pakaian, helm, kacamata pengaman, dan APD lainnya sebelum melepaskan mereka ke lokasi kerja. 

Kedua, banyak pekerja yang berasumsi bahwa karena mereka telah melakukan pekerjaan mereka selama bertahun-tahun, entah bagaimana mereka menjadi kebal terhadap bahaya. Seorang pekerja konstruksi veteran yang menggunakan penggiling, misalnya, bukan tidak mungkin apabila bahaya datang seperti matanya terkena serpihan kayu yang beterbangan, akibat ia memilih untuk tidak memakai kacamata pengaman pada hari itu, sehingga bisa menyebabkan ia terluka parah.

Dan yang ketiga, beberapa pekerja beranggapan bahwa menggunakan APD tidaklah modis dan tidak sedap dipandang mata sehingga memilih untuk tidak memakainya. Masalah-masalah seperti ini dapat diatasi tidak hanya dengan mendidik karyawan tentang pentingnya APD, tetapi juga dengan menjadikannya bagian dari proses seleksi. Dengan mengizinkan sekelompok kecil pekerja untuk “menguji” APD dan memberikan umpan balik tentangnya, masalah-masalah terkait di awal akan terjawab. Pesan beberapa sampel uji coba APD dan minta para pekerja tersebut mengujinya, dengan mengingat bahwa orang yang berbeda mungkin lebih menyukai produk tertentu, yang berarti Anda mungkin perlu menyediakan beberapa opsi untuk memenuhi kebutuhan para tenaga kerja.

Strategi Penggunaan APD dalam Kegiatan Operasional dan Produksi – Ilustrasi penggunaan APD dalam kegiatan operasional di tengah pandemi

Dengan banyaknya variasi APD yang tersedia di pasaran saat ini, Anda dapat dengan mudah menemukan produk yang tidak hanya memberikan tingkat perlindungan yang tepat dari bahaya, tetapi juga memenuhi kebutuhan pekerja untuk merasa nyaman, tetap sejuk, gesit, dan berpenampilan menarik saat bekerja. 

Penerapan Smart PPE Sebagai Solusi

Smart PPE, atau sistem smart wearable, mengacu pada APD yang terhubung ke teknologi perangkat sensor, internet, dan perangkat lain seperti perangkat lunak / software untuk memberikan informasi keamanan. APD ditingkatkan dengan perangkat elektronik cerdas yang memajukan keselamatan kerja dari ujung kepala hingga ujung kaki dan membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya untuk melindungi pekerja. Di sini, APD tidak hanya meminimalkan paparan bahaya, tetapi juga mengumpulkan data, mengirimkan notifikasi, dan secara otomatis menyesuaikan dengan kondisi internal dan eksternal. Sekarang ini tersedia dalam kehidupan kerja sehari-hari dan menawarkan prospek manfaat besar bagi pekerja di seluruh dunia dengan meningkatkan fungsi keselamatan yang ada. Dibandingkan dengan APD tradisional, fitur canggih Smart PPE ini mampu meningkatkan kegunaan dan efisiensi. Smart PPE mengarah pada pengurangan kesalahan, dalam jumlah dan tingkat keparahan kecelakaan dan cedera di tempat kerja, sehingga meningkatkan produktivitas, kinerja dan efisiensi, serta menghemat biaya jangka panjang. Hal ini dapat menghemat waktu dan meningkatkan kedisiplinan, menghasilkan perlindungan pekerja yang lebih baik, kenyamanan, kesehatan dan keselamatan, yang pada akhirnya membuat tenaga kerja yang lebih bahagia. 

Merancang Pedoman Sebelum Memulai Kembali Bekerja

Dengan menyadari pentingnya penggunaan APD, maka pihak pemberi kerja perlu membuat pedoman sebelum memulai kegiatan operasionalnya kembali di tengah pandemi ini. Pedoman-pedoman tersebut akan memuat hal-hal tentang penggunaan APD dan keselamatan kerja serta diselaraskan dengan tujuan dari perusahaan. 

Dalam merancang pedoman employee safety khususnya di masa pandemi ini, perusahaan perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Melakukan penilaian / analisis risiko semua proses, prosedur, kebijakan, dan produk baru sebagai akibat dari perubahan COVID-19, termasuk sistem pengadaan dan penyimpanan APD yang diperlukan berdasarkan kebutuhan pekerja.
  2. Mengembangkan, menerapkan, dan memantau program pelatihan untuk memastikan karyawan mengenakan APD.
  3. Mengidentifikasi dan memasang papan nama untuk penggunaan APD yang tepat (misalnya: pelindung wajah untuk operasi penggilingan, untuk penyaringan, dan lain-lain).
  4. Menerapkan protokol untuk pembersihan dan desinfeksi APD yang benar jika dapat digunakan kembali.
  5. Menerapkan protokol untuk pembuangan masker wajah, sarung tangan, dan APD sekali pakai lainnya yang dikenakan selama shift kerja.
  6. Memastikan di dalam kendaraan yang digunakan pekerja (milik pemberi kerja) selalu terdapat APD khusus COVID-19 yang diperlukan (misalnya, masker, sarung tangan, dan lain-lain).
  7. Melatih pekerja untuk selalu menjaga kebersihan barang-barang yang dibawa ke tempat kerja (misalnya, barang pribadi, makanan, laptop, APD, dan lain-lain).
  8. Memberikan metode bagi pekerja ketika ingin meminta APD tambahan.
  9. Memberikan perhatian untuk petugas pemeriksaan COVID-19 di tempat kerja dan menyediakan protokol untuk keselamatan mereka (misalnya: APD yang sesuai), serta pemeriksaan suhu atau penilaian kesehatan bagi semua pekerja.
  10. Membuat protokol dan metode dalam menangani pekerja yang mengalami gejala.

Dalam praktiknya, selain hal-hal diatas, perlu diperhatikan juga penggunaan peralatan safety diluar APD pelindung COVID-19. Untuk memitigasi resiko-resiko lain dalam pekerjaan, maka pemberi kerja / pihak perusahaan bertanggung jawab dalam mendisiplinkan para pekerja, serta menjamin keselamatan para pekerja dari segala resiko pekerjaan. klikMRO terus mendukung upaya disiplin K3 untuk mengurangi angka kecelakaan kerja, khususnya di Indonesia. Untuk menjawab tantangan industri 4.0 dan globalibasi, seluruh pihak perlu berkolaborasi untuk menciptakan suasana kerja yang aman, produktif, dan efisien.