Memahami Penggunaan Peralatan Keselamatan untuk Pekerjaan di Ketinggian

0
493

Memahami Penggunaan Peralatan Keselamatan untuk Pekerjaan di Ketinggian – Bekerja di ketinggian merupakan salah satu hal yang paling sering dilakukan khususnya dalam industri konstruksi, perbaikan, dan manajemen fasilitas. Bekerja di ketinggian menggambarkan pekerjaan yang dilakukan di atas ketinggian permukaan tanah, dan mencakup pekerjaan apa pun yang memiliki resiko terjatuh dalam jarak yang dapat menyebabkan cedera. Umumnya, pekerjaan di ketinggian melibatkan penggunaan tangga, scaffolding, hoist, gantri, boomlift, dan lainnya. Orang yang bekerja di ketinggian tentunya memerlukan tindakan keselamatan dan pencegahan untuk meminimalisir resiko terjatuh.

Tahukah Anda bahwa cedera akibat bekerja di ketinggian adalah salah satu penyumbang utama dari jumlah kecelakaan kerja? Hal ini dikarenakan banyaknya pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu tinggi, namun dikombinasikan dengan faktor resiko lainnya akibat terjatuh, seperti cedera yang berkelanjutan hingga terkena puing / peralatan lainnya. Oleh karena itu, pihak pemberi kerja perlu memastikan bahwa mereka telah mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menurunkan risiko kecelakaan kerja di ketinggian, baik dengan metode eliminasi, pencegahan, penangkapan, serta pelatihan administratif.

Saat menentukan peralatan kerja untuk digunakan selama bekerja di ketinggian, maka diperlukan tindakan perlindungan kolektif, misalnya penggunaan rel pengaman, jaring keselamatan, dan kantung udara. Perlindungan kolektif ini harus diprioritaskan terlebih dahulu sebagai tindakan pencegahan, untuk selanjutnya dilakukan tindakan perlindungan pribadi. Perlindungan pribadi memerlukan APD khusus untuk bekerja di ketinggian yang mencakup sistem penahan (fall restraint), perangkat penangkap (fall arrest), dan lifeline seperti tali pengikat (lanyard), jangkar (anchor), dan pengait (hook).

Alat Teknik lengkap

Peralatan kerja dan APD yang sesuai untuk pekerjaan di ketinggian harus ditentukan dan dipilih berdasarkan penilaian risiko. APD ini kemudian harus digunakan secara konsisten selama pekerjaan di ketinggian sesuai dengan regulasi yang berlaku, metode kerja, dan instruksi penggunaan. Berikut ini adalah jenis-jenis APD yang digunakan untuk bekerja di ketinggian:

Body Harness dan Sabuk Pengaman
Body Harness merupakan peralatan pengaman yang dipasangkan ke bagian tubuh sebagai tumpuan, khususnya pinggang, bahu, dan kaki. Agar bisa dikaitkan dengan tali pengaman, terdapat pula hook yang terletak di tengah punggung antara tulang belikat. Posisi hook ini wajib disetel dengan benar agar menjadi tumpuan titik penahan jatuh (fall arrest point). Ketika terjadi jatuh, maka posisi tumpuan full body harness yang benar akan mendistribusikan tekanan akibat benturan ke seluruh tubuh, tidak hanya di bagian perut yang justru akan menyebabkan cedera lebih parah. Posisi ini memungkinkan bagian pinggul dan bahu pekerja untuk membantu meredam tekanan, serta mengurangi benturan di area perut.

Beberapa tipe body harness juga menawarkan posisi hook D di bagian samping, depan, hingga bagian bahu. Lokasi titik hook yang berbeda-beda ini disesuaikan dengan posisi kerja, khususnya pada hook samping dan depan. Sedangkan hook yang diposisikan di bahu umumnya digunakan untuk pekerjaan ketinggian di ruangan yang sempit dengan ruang terbatas.

Terdapat pula tiga faktor yang menentukan kekuatan daya penahan apabila pekerja terjatuh, yakni jenis material lanyard, jarak jatuh ke permukaan, serta berat pekerja itu sendiri. Penggunaan shock-absorbing lanyard dan titik pengikat (tie-off) yang lebih tinggi dapat membantu mengurangi gaya benturan.

Peralatan Penyambung
Peralatan penyambung ini mencakup perangkat hook ataupun peralatan lainnya yang digunakan untuk mengaitkan sabuk ataupun harness ke titik pengikat. Peralatan penyambung ini dapat berbentuk satuan, seperti lanyard penyerap guncangan, tali penahan, ataupun kombinasi dengan perangkat lain, seperti jalur kerja (lifeline), tali pegangan, tali pengikat, dan carabiner.

Lanyard penyerap guncangan  (shock-absorbing lanyard) dapat digunakan untuk menahan pekerja agar tetap pada posisi tertentu ketika terjatuh, serta menawarkan material yang dapat mengurangi tekanan akibat gaya penahan. Saat menggunakan tali pengikat (restraint lanyard), panjang tali perlu dibuat sependek mungkin, dan jangan pernah digunakan untuk aplikasi pekerjaan dengan resiko posisi jatuh vertikal.

Dari segi materialnya, restraint lanyard tersedia dalam berbagai bahan, termasuk penyematan kabel baja, tali nilon, anyaman nilon, dan anyaman poliester. Tali penyerap goncangan (shock-absorbing lanyard) dapat terbuat dari baja, tali nilon, anyaman nilon atau anyaman dacron. Saat ini, sebagian besar lanyard penyerap guncangan memiliki shock pack yang berguna untuk menyerap energi yang dihasilkan selama peristiwa jatuh. Fitur shock pack ini juga dapat mengurangi potensi gaya penahan jatuh hingga kurang dari 1.800 lbs.

Adapun perangkat self-retracting lifelines yang dapat menambah versatilitas pada sistem penahan jatuh. Ketika dihubungkan dengan tali genggam (fall arrestor), perangkat lifeline ini memungkinkan pekerja untuk bergerak sepanjang garis daripada harus memutuskan dan menghubungkan kembali ke titik pengikat yang baru. Namun perlu diingat bahwa sistem tali genggap dan lifeline ini merupakan bentuk perlindungan secara pasif, sehingga masih memungkinkan pekerja untuk tetap bergerak selama panjang tali masih kendur. Dan ketika pekerja terjatuh, maka sistem perlindungan self-retracting lifelines akan memicu mekanisme untuk mengunci tali yang dikaitkan ke tubuh pekerja. Meskipun jenis perangkat ini tidak memerlukan tambahan tali penjepit , namun posisi lifeline harus ditempatkan tepat di atas pekerja untuk membantu menghilangkan potensi mengayun (swing) apabila pekerja jatuh.

Titik Jangkar (Anchor Points)

Anchor points merupakan titik dimana shock-absorbing lanyard ataupun self-retracting lifeline (SRL) dipasangkan ke penyangga struktural. Saat digunakan, pastikan bahwa titik jangkar berada di atas titik hook D pada body harness untuk meminimalisir jarak jatuh bebas. Hal ini juga membantu memastikan posisi lanyard penyerap guncangan atau SRL agar tidak mengganggu pergerakan pekerja.

Untuk menghitung anchor point saat menggunakan shock-absorbing lanyard, metodenya adalah dengan menambahkan tinggi pekerja, panjang lanyard, jarak perpanjangan (elongation) yang tercantum pada perangkat, serta safety factor 3 ft. Untuk menghitung saat menggunakan SRL (self-retracting lifeline), maka tambahkan tinggi pekerja, jarak jatuh bebas maksimum 2 ft, jarak perlambatan maksimum setelah jarak 3.5 ft, dan safety factor 3 ft. Pada perhitungannya, jumlah jarak ini tidak boleh lebih besar dari jarak yang diukur dari titik permukaan tanah pekerjaan tersebut dilakukan, dengan jarak ketinggian pekerja yang bersangkutan.

Pada akhirnya, keselamatan pekerja ditentukan dari seberapa disiplin pihak pemberi kerja dan karyawannya menerapkan standarisasi K3, dan menguasai metode pelatihannya.  Faktanya,  walaupun teknologi peralatan keselamatan terus diperbaharui, tetapi masih banyak perusahaan yang memilih untuk menggunakan garis peringatan dan sistem monitoring konvensional.

Kini aktivitas pengadaan semakin dipermudah dengan kehadiran Digital Procurement dari klikMRO. klikMRO merupakan B2B E-Commerce yang menyediakan produk keperluan industri terlengkap, mulai dari peralatan safety, barang MRO, perkakas teknik, dan lainnya. Temukan beragam manfaat dari fitur B2B klikMRO, dan konsultasikan kebutuhan pengadaan Anda bersama kami disini.