Langkah Serius dalam Pengelolaan Limbah APD Akibat COVID-19

0
36

Langkah Serius dalam Pengelolaan Limbah APD Akibat COVID-19 – Pandemi COVID-19 di seluruh penjuru dunia menyebabkan semakin banyak orang yang dirawat di rumah sakit, di mana tingkat penyebaran dan penularan virus yang tinggi membuat penggunaan alat pelindung diri (APD) penting bagi tim medis dan petugas kesehatan. APD untuk tim medis meliputi coverall jumpsuit yang sekilas mirip seperti baju astronaut, lengkap dengan penutup kepala, penutup wajah, masker, kacamata pelindung, sarung tangan disposable, dan sepatu pelindung.

Langkah Serius dalam Pengelolaan Limbah APD Akibat COVID – Contoh penggunaan APD lengkap oleh tenaga medis

Pada dasarnya, penggunaan APD bagi para tim medis dan petugas kesehatan ini memang diperuntukan untuk sekali pakai agar menghindari penularan infeksi virus. Namun, beberapa APD seperti kacamata dan sepatu memang masih bisa digunakan berkali-kali. Hanya saja, peralatan tersebut harus dibersihkan sesuai prosedur kesehatan. Sedangkan untuk pakaian pelindung, masker, sarung tangan, dan penutup kepala harus dibuang setelah satu kali pemakaian (disposable) .

Langkah Serius dalam Pengelolaan Limbah APD Akibat COVID – Dupont disposable coverall di klikMRO.com

Penggunaan masker, misalnya, dianjurkan untuk digunakan dengan waktu terbatas selama 4 jam. Lebih dari itu, masker harus diganti. Masker yang sudah terkena basah juga harus diganti. Sarung tangan pun harus diganti setiap menangani pasien karena sarung tangan ini berhubungan langsung dengan pasien. Sama juga halnya dengan pakaian pelindung.  Tentunya hal ini berpengaruh tidak hanya pada ketersediaan APD yang cepat terkuras, tapi juga meningkatnya jumlah sampah / limbah medis secara drastis. Di Jakarta sendiri saja, setiap harinya membutuhkan kurang lebih 1.000 hingga 3.000 APD. Lalu, apa yang akan terjadi pada sampah / limbah medis yang semakin meningkat ini? Apakah penyebaran infeksi virus juga dapat terjadi melalui sampah / limbah medis tersebut?

Limbah APD termasuk dalam kategori limbah B3 medis padat dan berbahan infeksius, yang artinya limbah berpotensi menyebarkan infeksi virus. Karena itu, limbah APD ini harus dikelola dengan baik agar tidak menularkan penyakit kepada masyarakat sesuai dengan pedoman pengelolaan limbah B3 pada surat edaran yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Surat ini mengatur tentang pengolahan limbah infeksius yang berasal dari pelayanan kesehatan pasien COVID-19, juga pengawasan terhadap pengelolaan limbah infeksius akibat COVID-19. 

Pemerintah mewajibkan setiap fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) untuk melakukan pelaporan mengenai pengelolaan limbah mereka secara berkala. Setelah menerima laporan, maka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK) akan mengevaluasi pelaksanaan dan memetakan kendala yang masih dialami, termasuk menindaklanjuti jika terdapat laporan pengelolaan yang belum sesuai standar. Pengelolaan limbah ini sangat penting untuk dilakukan dengan baik dan optimal agar tidak terjadi masalah lingkungan, seperti penumpukan limbah ataupun penggunaan kembali limbah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Umumnya, APD yang telah selesai dipakai akan diberi label “infeksius” dan harus dihancurkan atau dibakar dengan alat bernama incinerator yang ada pada rumah sakit. Incinerator merupakan tungku pembakaran yang digunakan untuk mengolah limbah padat menjadi materi gas dan abu. Selain untuk memusnahkan virus, pembakaran ini juga dapat mengurangi jumlah limbah yang tersisa.

Langkah Serius dalam Pengelolaan Limbah APD Akibat COVID-19 – Ilustrasi cara kerja mesin Incinerator, sumber dari slideshare.net

Namun, penggunaan incinerator untuk mengolah limbah ini pun masih menuai kontroversial. Pasalnya, pengoperasian incinerator yang tidak sempurna justru akan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, melalui emisi gas beracun dan pencemaran lainnya ke atmosfer. Karenanya, incinerator harus dilengkapi dengan alat pengendalian pencemaran udara, sehingga emisi yang dihasilkan sesuai baku mutu yang telah ditetapkan sebagaimana yang tercantum pada izinnya.

Tidak sampai di situ, masalah lainnya yang terjadi adalah tidak sebandingnya limbah infeksius dengan ketersediaan alat incinerator di Indonesia, karena tidak semua fasyankes memiliki incinerator.

Adapun cara lain yang bisa digunakan untuk mengantisipasi bertumpuknya limbah medis, yakni dengan mengubur limbah sesuai standar yang telah ditentukan oleh Kemenkes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses penguburan limbah infeksius meliputi penyemprotan disinfektan berbasis klor 0,5 persen, proses penghancuran limbah agar tidak berbentuk seperti aslinya, serta mengubur limbah pada kedalaman yang telah ditentukan.

Oleh karena itu, untuk membantu mengurangi penyebaran mata rantai COVID-19 diperlukan kerjasama dari semua pihak untuk menyesuaikan segala kegiatan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Tidak hanya dari hal penanganan limbah, ketersediaan APD yang cukup juga sangat diperlukan mengingat kasus harian COVID-19 terus meningkat dari waktu ke waktu. Dengan ketersediaan APD yang lengkap dan sesuai, maka tenaga medis pun dapat tetap menjaga kesehatan dalam menjalani tugasnya di tengah badai pandemi ini. klikMRO menyediakan peralatan APD esensial bagi tenaga medis, cek selengkapnya disini.