Jenis-Jenis Resiko Bahaya Bagi Pekerja HORECA serta Tipsnya

0
111

Jenis-Jenis Resiko Bahaya Bagi Pekerja HORECA serta Tipsnya – Resiko cedera di tempat kerja selain berdampak pada pekerja itu sendiri, tetapi juga dapat menyebabkan hilangnya produktivitas, kerugian materil, serta potensi premi asuransi yang lebih tinggi. Walaupun mungkin terdengar sepele, namun kesadaran terhadap hal ini dapat membantu menghemat biaya yang tidak terduga, serta membantu menjami keselamatan para pekerja di industri HORECA. Untuk itu, penerapan program keselamatan kerja untuk fasilitas hotel, restoran, dan lainnya sangat diperlukan, khususnya bagi pelaku bisnis yang hendak berinvestasi menjelang vaksinasi COVID-19 di Indonesia mendatang.

Hal pertama yang dapat dilakukan dalam menetapkan program keselamatan di lingkup HORECA adalah identifikasi risiko dan menentukan cara menghindarinya. Pada artikel kali ini, klikMRO akan membahas 4 resiko bahaya yang dihadapi pekerja HORECA:

1. Resiko Cedera Keseleo (Strain)

Alat Teknik lengkap

Potensi cedera yang satu ini kerap terjadi pada petugas resepsionis, housekeeper, pelayan restoran, pramusaji, petugas kasir, juru masak, maupun fungsi pekerjaan lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya ketegangan pada leher, punggung, dan bahu akibat posisi postur yang salah saat melayani pelanggan ataupun ketika membersihkan area. Faktor lainnya juga bisa disebabkan karena salah posisi ketika angkat barang, ataupun ketika sedang melakukan kegiatan berulang yang terlalu banyak. Walaupun hal ini dapat sembuh dengan sendirinya, namun tentu dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas dan potensi cedera yang berkepanjangan.

Untuk membantu pekerja menghindari resiko ini, manajer terkait dapat memberikan pelatihan terhadap karyawan tentang cara yang tepat dalam melaksanakan kegiatan tertentu . Dimulai dari hal kecil seperti membawa piring dengan posisi siku dekat dengan tubuh dapat membantu mengurangi ketegangan pada lengan dan punggung. Jika memungkinkan, sediakan food trolley untuk memudahkan penyajian, ataupun cleaning trolley untuk mobilitas pembersihan area.

2. Luka Bakar (Burns)

Cedera ini merupakan salah satu cedera yang paling berbahaya, dan paling sering pula diabaikan. Luka bakar ini paling berpotensi terjadi dalam proses persiapan makanan di area dapur. Mulai dari potensi cipratan minyak, terkena tumpahan panas, menyentuh permukaan besi panas, paparan asap panas / api, hingga sistem elektrikal di area dapur yang terkena air.

Untuk meminimalisir resiko ini, diperlukan pelatihan dan kedisiplinan pekerja dalam memakai peralatan keamanan seperti sarung tangan, pelindung wajah, apron, dan perlengkapan lainnya yang dapat mereduksi paparan panas. Selain itu, pihak pengelola juga disarankan menyediakan peralatan seperti food container anti-selip untuk menghindari tumpahan makanan, serta memperhatikan area kelistrikan agar tetap tertutup rapat dan jauh dari potensi cipratan air.

3. Resiko Terjatuh ( Slips Hazard)

Resiko terjatuh ini mencakup bahaya seperti tergelincir, tersandung, dan terpeleset. Ketiga hal tersebut merupakan bahaya yang umum terjadi di restoran, khususnya di area dapur yang cenderung basah. Oleh karena itu, penggunaan alas anti selip dapat mengurangi resiko ini terutama pada lantai tempat pencucian piring, lemari es, wastafel, dan area memasak. Untuk itu, instruksikan kepada para pekerja terkait untuk secara disiplin dna konsisten membersihkan tumpahan apa pun, serta sediakan papan tanda area licin.

Selain itu, perhatikan pula lantai yang tidak rata karena dapat menyebabkan pekerja dapur terpeleset ataupun terjatuh. Solusinya adalah dengan meletakkan alas karet untuk mengakomodir permukaan lantai yang tidak rata, serta memberikan tambahan grip bagi pekerja yang melewatinya.

Dengan memastikan semua lantai tetap bersih dan kering, pihak pengelola dapat mengurangi risiko tergelincir, tersandung, dan jatuh. Sebagai tambahan tips dari klikMRO, gunakan pula kaca bundar untuk melihat sisi dapur lainnya, untuk menghindari resiko tabrakan antar sesama pekerja. Hal ini dapat meminimalisir beban biaya yang timbul akibat hasil makanan yang jatuh, ataupun resiko cedera yang dapat terjadi.

4. Luka Gores / Sayatan (Cut & Wounds)

Umumnya area dapur identik dengan peralatan masak, termasuk peralatan yang tajam seperti pisau, gelas beling, piring keramik, dan teko untuk teh. Barang-barang tersebut tentu dapat membahayakan bagi penggunanya apabila terjadi ketidaksengajaan seperti terjatuh dan pecah, ataupun tersayat ketika pemotongan bahan makanan.

Untuk membantu menghindari risiko luka robekan, seluruh jenis pisau dapur yang digunakan harus selalu diasah dengan alat pengasah dan dalam kondisi baik. Pekerja juga perlu diberikan pelatihan agar secara konsisten memahami cara penggunaan yang tepat, serta melakukan penyimpan peralatan tajam dengan aman di storage yang sudah disediakan. Selain itu, lakukan pula pendekatan common sense mengenai perlengkapan dapur berbahan kaca yang dapat pecah apabila terjadi perubahan suhu mendadak seperti panas ke dingin dan sebaliknya, ataupun material logam yang tidak boleh dimasukkan ke dalam microwave karena dapat menimbulkan percikan api dan ledakan.

Dari beberapa resiko diatas, pihak pengelola dapat menentukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan keselamatan pekerja, mengidentifikasi bahaya, dan menciptakan program pelatihan yang diperlukan karyawan. Di era pandemi yang masih berlangsung ini, pelaku bisnis HORECA harus tetap mengutamakan protokol kesehatan, tanpa mengesampingkan protokol keselamatan bagi para pekerjanya pula.

Berangkat dari kedua hal ini, klikMRO menyediakan berbagai solusi protokol kesehatan dan keselamatan untuk industri HORECA demi operasional yang aman dan nyaman dalam menghadapi kesempatan baru di tahun 2021. Konsultasikan kebutuhan Anda bersama kami secara gratis disini.