Tingginya jumlah kecelakaan kerja disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kondisi tempat kerja yang tidak aman, baik terlalu gelap ataupun terlalu panas. Perilaku dan kebiasaan pekerja, seperti penggunaan peralatan yang tidak standar dan tidak menggunakan APD juga menjadi faktor lainnya.
Faktor kecelakaan kerja tersebut dapat dicegah dengan adanya komitmen perusahaan dalam menetapkan kebijakan dan peraturan K3 serta didukung oleh kualitas SDM perusahaan dalam pelaksanaannya.
Sayangnya, menurut catatan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) pada 2002, baru sekitar 45% dari total jumlah perusahaan di Indonesia (176.713) yang memuat komitmen K3 dalam perjanjian kerja bersamanya. Padahal pentingnya kesadaran mengenai K3 terlihat dari adanya undang-undang No. 1/1970 dan No. 23/1992 mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Salah satu cara lain untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dengan penggunaan alat. Selain pakaian dan perlengkapan safety yang digunakan oleh pekerja, alat lain seperti alarm, kamera, serta sensor dapat mengurangi kecelakaan di pabrik yang sering terjadi akibat kelalaian pekerja.
Safety sensor pun hadir lebih spesifik untuk pabrik yang bekerja menggunakan sistem otomasi, yaitu sistem yang telah terprogram dengan runtut dan beberapa kasus yang tidak ada dalam program tidak dapat dihindarkan.
Misalnya saat kaki pekerja terjepit di conveyor, tidak ada prosedur penanggulangannya jika dari awal tidak diprogram demikian. Oleh karena itu
safety sensor
pun hadir untuk menjadi feedback alat apabila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan prosedur.
Kebutuhan akan safety sensor ini akhirnya juga dapat memunculkan beberapa ide safety sensor yang dapat dikembangkan oleh para engineer atau researcher seperti :

 

Proximity sensor (Sensor Jarak)

Cara kerja proximity sensor beragam sesuai dengan gelombang yang dipancarkan, baik cahaya, ultrasonik dan lainnya. Secara umum proximity sensor melepaskan gelombang dan menghitung panjang gelombang dalam range yang sudah ditentukan. Jika terdapat objek di depannya, panjang gelombang yang diterima kembali oleh sensor akan berbeda karena terpantul oleh objek yang melewatinya.
Berdasarkan teori tersebut, bila memasuki kawasan berbahaya yang memiliki conveyor, penyedot, atau benda sejenisnya, adanya proximity sensor yang sudah diintegrasikan dengan kontroler akan memberikan peringatan tertentu, baik berupa suara, ataupun mesin yang segera dimatikan secara otomatis apabila proximity sensor mendeteksi objek yang terlalu dekat dari benda-benda berbahaya tersebut.

 

Load sensor (Sensor Berat) 

Cara kerja load sensor adalah bila terkena beban ia akan memberikan luaran berupa besaran beban yang diterima yang didapat dari nilai deformasi material load cell. Luaran atau output dijadikan input dalam suatu controller untuk mengolah data masukan. Apabila dalam logic controller dibatasi suatu nilaian deformasi material load cell, maka jika nilai deformasi lebih dari batas yang diberikan tentu akan ada output berupa peringatan, atau secara otomatis mesin akan dimatikan. Aplikasinya adalah ketika suatu kawasan tidak boleh dimasuki maka ketika ada orang yang memasuki kawasan tersebut mesin akan otomatis terhenti prosesnya. Hal ini mencegah terjadinya kecelakaan di pabrik-parbik.

 

Infrared Thermal Imaging (Kamera Pendeteksi Temperatur)

Fungsi dari infrared thermal imaging adalah mendeteksi temperatur dengan visualisasi berupa degradasi warna dari kamera. Merah berarti panas sekali dan terdegradasi sampai biru yang artinya dingin. Biasanya alat ini digunakan untuk mendeteksi benda benda yang sulit dijangkau, seperti kabel dan sutet.
Bagaimana cara kerjanya sebagai safety sensor? Seperti alat-alat lain yang telah dijelaskan di atas, hasilnya akan dijadikan input kemudian diolah di controller. Controller akan diprogram memiliki limit temperatur tertentu sehingga jika terdeteksi objek yang melebihi temperatur yang ditentukan, akan ada peringatan yang diberikan.
Contohnya terjadi overheat pada proses permesinan milling yang dapat merusak mesin dan mata bor karena temperatur yang tinggi menyebabkan material semakin lembek. Dengan adanya infared thermal imaging ini bisa mengontrol dan secara otomatis melakukan pendinginan dengan menyiram oli atau air. Alat ini juga dapat digunakan untuk mengontrol sutet yang susah dijangkau, sehingga pemantauan akan lebih mudah dengan infrared thermal imaging ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here