Implementasi Sistem Manajemen K3 Masih Belum Efektif? Ini Penyebabnya!

0
431

Lebih dari 6.000 insiden kecelakaan kerja terjadi di dunia ini setiap harinya. Hal itu menurut data yang dirilis International Labour Organization (ILO). Namun bagaimana dengan Indonesia?

Tercatat sebesar 30 persen kecelakaan berasal dari industri konstruksi. Dari data tersebut, sudah ada lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dari total 100 ribu lebih insiden kecelakaan kerja di seluruh Indonesia hingga hari ini.

Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan implementasi sistem manajemen keselamatan kerja di berbagai industri tidak hanya pada konstruksi, agar dapat menekan angka kecelakaan kerja dari tahun ke tahun.

Hal tersebut juga menjadi sorotan utama dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker) RI. Sudah ratusan ribu perusahaan diminta untuk mengimplementasikan sistem manajemen keselamatan kerja dengan baik dan efektif. Sayangnya, lagi-lagi sistem manajemen K3 tidak berjalan dengan baik. Faktanya, sekitar 221 ribu perusahaan di Indonesia termasuk dalam kategori high risk atau beresiko tinggi terhadap kecelakaan yang dapat merenggut nyawa. Namun baru sebagian kecil saja dari perusahaan-perusahaan tersebut yang benar-benar  menerapkan sistem K3 dengan konsisten dan disiplin.

 

Apa sebetulnya yang menyebabkan implementasi sistem manajemen keselamatan kerja di Indonesia masih belum berjalan dengan baik?

Masih banyaknya mindset / pandangan mengenai K3 yang masih sebatas aturan tertulis pada umumnya, sehingga pekerja cenderung menganggap remeh dan mengabaikannya. Ditambah lagi, jumlah ahli K3 Indonesia masih terbatas jumlahnya, sehingga perlu bekerja lebih keras dalam menyadarkan para pekerja dan melakukan implementasi nyata pada bidang tersebut.

Salah satu yang dilakukan oleh pemerintah adalah melalui kerjasama dengan sejumlah profesional di bidang keselamatan kerja. Misalnya, Health Safety Environment (HSE) yang melakukan penerapan ISO 45001.

Lewat kerjasama tersebut, tujuannya adalah untuk meningkatkan performa sistem manajemen keselamatan kerja di Indonesia, melalui sertifikasi sistem manajemen dan pengoptimalan. Tidak hanya itu, penggunaan teknologi juga diterapkan untuk memastikan sistem ini menjadi bagian dalam kehidupan pekerja sehari-harinya. Dengan dukungan teknologi, proses pengawasan hingga pelaporan implementasi sistem dapat dilakukan secara cepat dan efektif.

 

Mengapa Implementasi Masih Tidak Efektif?

Meski sudah melakukan berbagai cara, mulai dari kerjasama dengan pihak-pihak terkait dan penyerapan teknologi keselamatan, ternyata implementasi K3 masih kurang efektif di Indonesia. Hal yang paling utama terlihat adalah karena sistem manajemen keselamatan kerja masih belum membudaya di Indonesia. Hal itu disebabkan juga karena kurangnya kesadaran baik dari perusahaan, maupun dari pekerja di lapangan. Itulah mengapa perusahaan yang memiliki sertifikat lulus sistem manajemen kecelakaan kerja bahkan dengan nilai nyaris sempurna, namun masih mendapatkan insiden di tempat kerja yang berakibat cedera hingga memakan korban jiwa.

Penyebab selanjutnya adalah karena penerapan sistem tersebut dilatarbelakangi hal dasar. Seperti permintaan konsumen untuk mengurangi biaya yang berhubungan dengan K3 dengan tujuan menghemat biaya proyek. Kemudian adapula permintaan maupun tuntutan dari para pekerja terhadap resiko kecelakaan kerja dan kompensasinya. Dari faktor-faktor tersebut membuat sistem manajemen hanya sebagai dokumentasi perusahaan untuk lulus audit, sehingga program K3 tidak dilakukan dengan tepat.

Masih banyak penyebab lainnya kenapa sistem manajemen K3 tidak berlangsung tepat dan efektif. Pertama, identifikasi bahaya dibuat oleh karyawan atau konsultan sementara, bukan oleh ahli K3 yang profesional. Kemudian yang kedua, pengendalian terhadap bahaya hanya sekedarnya saja, dan hanya fokus pada Alat Pelindung Diri (APD) saja.

Terakhir, perusahaan juga sering menerapkan sistem manajemen secara tidak serius dan disiplin, dan apabila terjadi kecelakaan, perusahaan justru cenderung menutup-nutupi insiden. Hasilnya, tidak ada yang mencari akar permasalahannya untuk ditindaklanjuti penyebab serta bahaya potensial lainnya.

Untuk itu, sudah semestinya perusahaan memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, tidak hanya sekedar untuk keperluan audit dengan APD sekedarnya saja. Tapi sudah sampai ke tingkat proaktif, bahkan resilient untuk menghilangkan bahaya dengan penerapan yang menyeluruh dalam pengendalian bahaya tersebut.

Tingkat Kesadaran Penerapan Manajemen K3:

Secara umum tingkat kesadaran perusahaan terhadap implementasi K3 ada beberapa jenis, yakni:

  1. Basic

Ini merupakan tingkat paling bawah, dimana perusahaan hanya fokus pada kelengkapan dokumen dan hanya menyiapkan APD seadanya.

  1. Reactive

Tingkat selanjutnya adalah ketika perusahaan sudah menyiapkan APD untuk mengurangi resiko saat terpapar.

  1. Planned

Pada tingkat ini, perusahaan sudah melakukan proteksi interface antara manusia dengan mesin / peralatan, serta melakukan pengendalian jam kerja untuk mengurangi paparan terhadap high risk environment.

  1. Proactive

Tingkat ini menunjukan sifat proaktif perusahaan, dimana perusahaan fokus pada pengendalian sumber bahaya untuk semakin memperdalam pencegahan terjadinya kecelakaan kerja.

  1. Resilient

Tingkat terbaik dalam penerapan manajemen sistem K3, dimana perusahaan sudah fokus pada menghilangkan bahaya sepenuhnya dan menerapkan pelatihan serta pengalaman maksimal dalam pengendalian resiko atau bahaya.