Cara Menghitung OEE dan Manfaatnya bagi Kinerja Produksi Perusahaan

0
610

Cara Menghitung OEE dan Manfaatnya bagi Kinerja Produksi Perusahaan – Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah standarisasi mengenai seberapa baik operasional dari peralatan manufaktur sedang digunakan saat ini, meliputi perhitungan atas faktor fasilitas, waktu, dan material, untuk selanjutnya dibandingkan dengan potensi produktivitas penuhnya selama periode runtime. Dengan menggunakan pengukuran OEE, produsen dapat mengatur strategi dan langkah terkait dalam peningkatkan proses manufaktur secara sistematis.

Melalui kalkulasi OEE, perusahaan juga dapat mengukur kemajuan produksi dengan cara meningkatkan produktivitas peralatan manufaktur, serta mengidentifikasi potensi kerugian akibat downtime dan berkurangnya produktivitas. Melalui 4 komponen utama dalam perhitungan OEE, nilai maksimal yakni 100% dapat dicapai berdasarkan perhitungan jumlah produksi yang bagus diluar produk defect (kualitas 100%), dengan kecepatan maksimum (kinerja 100%), dan tanpa gangguan kinerja produksi (ketersediaan 100%).

Mengukur OEE adalah suatu praktik yang umum dilakukan produsen, khususnya dalam industri manufaktur. Dengan mengukur setiap aspek dari metrik OEE ini, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi kerugian, kemajuan dari benchmarking industri, dan meningkatkan produktivitas peralatan manufaktur, yang pada akhirnya juga meningkatkan efisiensi produksi dengan hasil yang maksimal.

Alat Teknik lengkap

Dalam memperhitungkan OEE, terdapat pula Total Effective Equipment Performance (TEEP), yang merupakan ukuran dalam perhitungan OEE yang mencakup tingkat produksi berdasarkan waktu hari kalender, diluar jam operasional yang sudah terjadwal. Maka dari itu, tingkat TEEP 100% memberikan indikasi bahwa operasional telah berjalan dengan OEE 100% 24 jam sehari dan 365 hari setahun (pemuatan kinerja 100%).

Bagaimana Cara Menghitung OEE?

Perhitungan OEE dari suatu unit manufaktur dihitung berdasarkan 4 komponen utama:

Availability: persentase waktu yang dijadwalkan saat aset produksi tersedia untuk dioperasikan. Sering pula disebut sebagai Runtime.

Komponen ini memperhitungkan jumlah kehilangan ketersediaan produksi, yang mencakup semua peristiwa yang menghentikan produksi yang direncanakan untuk jangka waktu yang cukup lama (biasanya beberapa menit atau lebih lama). Availability yang kurang mencakup unplanned downtime (seperti kegagalan peralatan dan kekurangan bahan), dan planned downtime (seperti waktu pergantian / shifting jadwal produksi).

Kalkulasi ini mengukur rasio perbandingan Run Time terhadap Planned Production Time, dengan rumus sebagai berikut:

Availability = Run Time / Planned Production Time

Run Time = Planned Production Time – Down Time

Performance: kecepatan produksi dalam perhitungan persentase berdasarkan kecepatan maksimum yang telah ditentukan pada aset produksi.

Perhitungan performance ini memberikan kalkulasi kerugian kinerja, yang mencakup semua faktor yang menyebabkan aset produksi beroperasi pada kecepatan yang kurang dari kecepatan maksimum saat runtime, termasuk pada saat siklus lambat dan siklus pemberhentian sementara.

Perhitungan ini juga berguna sebagai rasio perbandingan Net Run Time pada Total Run Time. Dalam praktiknya, komponen performance ini dihitung berdasarkan:

Performance = (Waktu Siklus Ideal × Jumlah Total Produksi) / Run Time

Waktu Siklus Ideal adalah waktu tercepat secara teoretis dalam memproduksi suatu bagian / parts. Oleh karena itu, ketika dikalikan dengan Jumlah Total Produksi, hasilnya adalah Net Run Time dikurang waktu produksi tercepat secara teoritis untuk membuat Jumlah Total Produksi.

Quality: jumlah hasil produksi yang dinyatakan baik (lolos Quality Control) berdasarkan perhitungan persentase dari total unit produksi. Umumnya disebut pula sebagai First Pass Yield (FPY).

Komponen ini memperhitungkan potensi kehilangan kualitas produksi berdasarkan kalkulasi potongan produksi yang tidak memenuhi standar kualitas, termasuk potongan yang kemudian dikerjakan ulang.

Dihitung sebagai rasio Waktu Produktif Sepenuhnya (hasil produksi berkualitas baik yang diproduksi secepat mungkin tanpa down time), terhadap Net Run Time (waktu tercepat untuk jumlah produksi total).

Quality = Total produksi kualitas baik / Jumlah Total Produksi

Hasil OEE: perhitungan produksi berdasarkan semua potensi kerugian, yakni down time, masalah kinerja, dan berkurangnya kualitas produksi, sehingga menghasilkan ukuran waktu produksi yang benar-benar produktif.

OEE ini dihitung sebagai rasio dari Fully Productive Time dengan Planned Run Time. Dalam praktiknya, OEE dihitung berdasarkan ketiga komponen sebelumnya, yakni:

OEE = Availability × Performance × Quality

Total OEE = (Total produksi kualitas baik × waktu produksi tercepat per pcs) / Planned Run Time

Loading: persentase total waktu hari kalender yang dijadwalkan untuk beroperasi. Komponen ini digunakan untuk menghitung TEEP, dengan cara mengkalikan hasil dari OEE dengan hasil tingkat loading ini.

TEEP = Hasil OEE x Persentase Penjadwalan Produksi per Total Hari Kalender

Sebenarnya perhitungan OEE tidaklah rumit, asalkan penuh dengan ketelitian khususnya pada standar yang digunakan sebagai dasar perhitungan. Selain itu, perhitungan OEE ini juga dapat diaplikasikan berdasarkan work center ataupun nomor parts mesin tertentu, dan akan menjadi lebih rumit apabila digulirkan hingga ke perhitungan tingkat agregat.

Cara Menghitung OEE dan Manfaatnya bagi Kinerja Produksi Perusahaan – OEE adalah rasio Waktu Produktif Sepenuhnya (Fully Productive Time) dengan Waktu Produksi yang Direncanakan (Planned Run Time)

Penjelasan Skor OEE

Skor OEE 100%: produksi yang sempurna, dimana produsen hanya memproduksi suku cadang yang berkualitas bagus dan lolos QC, dengan kecepatan secepat mungkin, tanpa waktu henti (downtime).

Skor OEE 85%: skor kelas dunia khususnya untuk discrete manufacturing. Skor ini merupakan tujuan bagi banyak perusahaan produsen sebagai goals jangka panjang mereka.

Skor OEE 60%: merupakan skor yang cukup umum khususnya untuk produsen terpisah, dimana skor ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan ataupun peningkatkan yang dapat dilakukan perusahaan untuk memaksimalkan produksi.

Skor OEE 40% dan kebawah: merupakan skor umum bagi perusahaan manufaktur yang baru mulai melacak dan meningkatkan kinerja manufaktur mereka. Skor ini adalah skor yang cukup rendah dan masih dapat ditingkatkan melalui langkah dan strategi yang sistematis, seperti melacak potensi waktu henti dan penyebabnya, serta penanganan sumber downtime terbesar agar diatasi satu per satu.

Cara Menghitung OEE dan Manfaatnya bagi Kinerja Produksi Perusahaan – Lakukan benchmarking berdasarkan skor OEE perusahaan Anda dengan standar industri saat ini.

OEE berguna sebagai tolak ukur kemajuan produksi perusahaan dan baseline produksi. Tolak ukur dari perhitungan OEE ini dapat digunakan untuk membandingkan kinerja aset produksi tertentu dengan standar industri, dengan aset in-house serupa, ataupun untuk mengukur hasil produksi yang mencakup proses shifting peralatan berbeda dalam mengerjakan aset yang sama. Sebagai baseline produksi, OEE juga dapat digunakan untuk melacak kemajuan produksi dari waktu ke waktu serta guna menghilangkan potensi pemborosan dari suatu aset produksi ataupun proses tertentu.

Selain itu, terdapat pula beberapa langkah lainnya yang dapat diterapkan perusahaan dalam meningkatkan produktivitas serta efisiensi dalam menunjang operasional produksi yang baik. Salah satunya adalah dengan memaksimalkan kinerja pengadaan perusahaan, khususnya barang MRO yang merupakan bahan krusial dalam suatu proses produksi.

klikMRO hadir sebagai B2B E-Commerce yang terfokus pada layanan pengadaan digital, memiliki misi untuk memajukan industri Indonesia untuk bangkit bersama melewati masa pandemi ini. Dengan berkolaborasi dengan ribuan brand ternama penyedia barang industri, klikMRO memberikan kemudahan dalam pengadaan satu pintu secara transparan, terukur, sistematis, terkontrol, dan mudah. Mulai konsultasikan kebutuhan Anda bersama kami disini.