Bagaimana Kesehatan Mental Mempengaruhi Produktivitas Bisnis di Masa Pandemi?

0
408

Bagaimana Kesehatan Mental Mempengaruhi Produktivitas Bisnis di Masa Pandemi? – Kesehatan merupakan aspek kehidupan paling penting dalam seluruh elemen masyarakat, tidak terkecuali bagi para pelaku industri hingga pekerja industri di sektor manapun. Kesehatan dalam hal ini bukan hanya sekedar kesehatan fisik, namun juga mencakup kesehatan mental. Dalam situasi COVID-19 sekarang ini, berbagai upaya kerap dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus. Namun pernahkah Anda berpikir bahwa kesehatan mental di tengah pandemi ini juga tidak dapat diabaikan?

Dalam artikel ini, klikMRO akan membahas mengenai bagaimana kesehatan mental di tengah pandemi dapat mempengaruhi produktivitas dan keberlangsungan bisnis di masa pandemi.

Dalam lingkup operasional, apabila area kerja memiliki proses pekerjaan yang memiliki risiko celaka atau cedera, umumnya perusahaan dapat menyelidiki potensi bahaya dengan melakukan penilaian bahaya (risk assessment) untuk mengidentifikasi bahaya, serta menerapkan kontrol menggunakan hierarki kontrol sebagai panduan pencegahan untuk menghindari insiden sebelum terjadi. Namun, kesehatan mental di tempat kerja juga harus diperhatikan sama seriusnya dengan kesehatan fisik pekerja. Untuk itu, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah untuk membantu karyawannya dalam penilaian kesehatan mental, khususnya di tengah pandemi ini.

Alat Teknik lengkap

Sebuah standar yang diterbitkan pada Juni 2021 oleh International Organization for Standardization (ISO) adalah contoh bagaimana kesehatan mental ditempatkan lebih kuat di bawah rubrik keselamatan kerja. ISO 45001 memberikan panduan dalam mengelola risiko psikososial di tempat kerja melalui standar sistem manajemen keselamatan.

Aspek Kesehatan Mental dalam Mengurangi Resiko Bahaya dan Kerugian Lainnya

Secara umum, kesehatan mental digambarkan sebagai jumlah kesejahteraan sosial, emosional dan psikologis seseorang, dan sebagai sesuatu yang mempengaruhi cara kita berpikir, merasa, bertindak, merespons terhadap stres, cara berhubungan dengan orang lain, dan membuat pilihan yang sehat. Demikian pula, masih banyak definisi dan deskripsi tentang seperti apa kesehatan mental yang baik itu. Misalnya, Mental Health Foundation (UK) mencantumkan 4 kemampuan dalam menentukan kesehatan mental yang baik:

-Kemampuan untuk belajar
-Kemampuan untuk mengekspresikan emosi, baik positif maupun negatif
-Kemampuan untuk membentuk dan memelihara hubungan yang sehat
-Kemampuan untuk mengatasi perubahan dan ketidakpastian

Lingkungan kerja yang sehat dapat mendukung kemampuan-kemampuan tersebut, sementara lingkungan yang disfungsional cenderung melemahkannya. Kesehatan mental yang baik juga dapat berkontribusi pada hasil yang baik di tempat kerja.

Sudah banyak perusahaan yang menerapkan protokol kesehatan bagi operasional bisnisnya, baik dari segi deteksi COVID-19 bagi karyawan, hingga mengikuti kebijakan WFH bagi karyawan di perusahaan yang bergerak di bidang non-esensial. Namun, pihak manapun masih kesulitan mendeteksi pekerja apakah benar-benar negatif COVID-19 ataupun OTG, sehingga resiko penularan tidak terlihat tetap masih belum dapat dihindari. Setelah kebijakan pemerintah merujuk pada pembukaan seluruh sektor usaha, pelaku bisnis perlu mempertimbangkan aspek fisik dan mental lainnya terhadap karyawan. Dimulai dari faktor kelelahan yang ditandai dengan perasaan kelelahan emosional, sinisme, dan ketidakmampuan. Hal ini merupakan salah satu konsekuensi paling umum terjadi akibat stres di tempat kerja.

Sebuah metastudi yang diterbitkan oloeh PLOS One menemukan bahwa kelelahan dikaitkan dengan peningkatan dua kali lipat absensi karyawan, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan tidur. Selain itu, sebuah studi lain dalam jurnal Biological Psychology juga menemukan bahwa kelelahan kronis dapat merusak memori dan perhatian pekerja, sehingga apabila pekerja tersebut ditempatkan di area bahaya untuk mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, maka risiko kesalahan human error juga turut meningkat.

Membangun Budaya yang Lebih Baik

Berikut ini adalah beberapa langkah dasar yang direkomendasikan oleh para ahli yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan dalam membangkitkan kinerja karyawannya:

Berkomunikasi: Dorong pekerja untuk terbuka mengenai potensi pekerjaan, lingkungan kerja, ataupun masalah pribadi yang menimbulkan stres di tempat kerja. EHS Today melaporkan bahwa stigma mengutarakan kesehatan mental dapat menjadi salah satu hambatan terbesar untuk mendapatkan bantuan baik dari rekan kerja maupun tim terkait, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko cedera.

Identifikasi: Standar ISO 45003 merekomendasikan pembentukan kelompok tugas kesehatan mental untuk mengidentifikasi risiko psikososial dan mengembangkan rencana untuk memitigasinya. Risiko psikososial juga dapat dimasukkan ke dalam prosedur investigasi insiden pekerjaan, yang dapat membantu perusahaan dalam memahami lebih dalam bagaimana kesehatan mental memengaruhi keselamatan di tempat kerja.

Pelatihan: penyelenggaraan pelatihan ataupun seminar mengenai employee risk assessment  untuk menemukan tanda-tanda kelelahan, depresi, dan hambatan lainnya yang dapat mempengaruhi produktivitas pekerja.

Menindak Tegas Intimidasi: The Mayo Clinic mengutip dinamika tempat kerja yang disfungsional sebagai penyebab utama depresi. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengadopsi pedoman yang jelas terkait perilaku karyawan khususnya bullying, intimidasi, serta perilaku sosial lainnya terkait pandemi COVID-19 baik itu penyintas maupun pengidap, dilengkapi dengan pelaporan yang jelas dan terukur.

Dekompresi: Ketidakseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dapat menjadi penyebab utama kelelahan, khususnya bagi pekerja yang mendapatkan tugas tambahan terkait operasional perusahaan.  Perusahaan dapat mengadopsi kebijakan yang mendorong aktivitas kesehatan karyawan, seperti anjuran olahraga dan menunjang kebiasaan protokol kesehatan yang baik.

Utamakan Pencegahan dan Diagnosa: Pemantauan kesehatan pekerja tidak hanya sebatas tidak adanya gejala, melainkan tracing dan keterbukaan antar karyawan dengan manajemen.  Diagnosa yang dimaksud dalam hal ini meliputi langkah lanjut penanganan resiko, seperti pengetesan kadar gula darah secara serentak untuk melihat potensi fatalitas COVID-19 akibat komorbid, hingga ketersediaan peralatan sterilisasi ruangan ataupun area kerja yang menyeluruh.

klikMRO menyediakan solusi pencegahaan dan penanganan risiko COVID-19 di tempat kerja, dengan menyediakan berbagai peralatan sterilisasi dan peralatan diagnosa. Pengadaan digital tengah menjadi trend pengadaan terkini di tengah keterbatasan kegiatan, sehingga klikMRO sebagai B2B E-Commerce siap menuntun Anda dalam memulai proses pengadaan digital yang efisien dan efektif. Konsultasikan kebutuhan Anda bersama kami disini