7 Strategi Efisiensi Pertambangan Menghadapi Pandemi yang Berkelanjutan

0
279

7 Strategi Efisiensi Pertambangan Menghadapi Pandemi yang Berkelanjutan – Selama lebih dari setahun terakhir, dunia pertambangan telah mengalami banyak perubahan mulai dari perubahan strategi, struktur, hingga operasional akibat pandemi. Dampak dari pandemi ini telah menyebabkan beberapa masalah bisnis pertambangan, mulai dari berkurangnya demand yang menyebabkan pengurangan kapasitas produksi, hinnga ketidakpastian investasi akibat pandemi yang belum berakhir.

Di sisi lain, apabila harga komoditas turun maka umumnya perusahaan merespons dengan memangkas biaya, yang merupakan strategi pengurangan cost terhadap siklus pasar yang berubah. Untuk itu, hal ini kerap menimbulkan pertanyaan: “Apabila siklus permintaan pasar sudah kembali normal, akankah biaya operasional yang diperlukan akan tetap tinggi?”

Untuk mencegah siklus yang belum pasti serta potensi kenaikan biaya operasional, pelaku bisnis tambang harus menentukan strategi yang tidak hanya sekedar pemotongan biaya secara tradisional. Sebagai solusi tambahan, produktivitas industri (didefinisikan sebagai kontribusi nilai PDB yang diciptakan oleh rata-rata pekerja dalam satu jam kerja) perlu meningkat agar perusahaan dapat memperoleh kembali dukungan pemegang saham dan memberikan value lebih kepada masyarakat.

Alat Teknik lengkap

Seperti pelaku industri lainnya, perusahaan tambang juga tidak dapat mengendalikan pergerakan ekonomi dunia, khususnya nilai mata uang dan harga komoditas. Namun, perusahaan dapat mengontrol bagaimana mereka beroperasi secara efektif dan efisien. Hal ini bertujuan untuk meraih economic of scale, dimana perusahaan perlu beralih dari pemotongan biaya yang bersifat reaksioner, menuju program manajemen biaya yang berkelanjutan.

Pada artikel ini, klikMRO akan membahas mengenai 7 strategi pertambangan untuk meningkatkan efisiensi biaya di tengah pandemi:

1. Perkuat Perencanaan Tambang
Untuk meningkatkan produktivitas sektor tambang, perusahaan dapat:

  • Fokus terhadap produksi yang berkualitas tinggi dengan meningkatkan cut-off grades
  • Mengurangi pengeluaran terhadap aset dan fasilitas dengan potensi produksi yang lebih rendah dan umur tambang yang lebih pendek.
  • Pertimbangkan manfaat dan potensi risiko dari pengurangan cadangan.
  • Tingkatkan kapasitas produksi dari fasilitas tambang yang berbiaya lebih rendah dan prioritaskan proyek dengan biaya yang lebih rendah pula.
  • Fokus pada pencarian dan mempertahankan pekerja perencana tambang yang berpengalaman dan mampu meningkatkan kinerja operasional
  • Menjaga produktivitas harian umumnya volume produksi, lokasi penambangan, dan kandungan mineral.

2. Tingkatkan Kontrol Anggaran dan Manajemen Risiko
Guna meningkatkan outcome dari proyek pertambangan, perusahaan tambang dapat:

  • Menetapkan pemantauan yang jelas terhadap pengeluaran aktual, termasuk biaya per unit produksi.
  • Memberikan metrik utama dengan operator teknik, pengadaan, manajemen konstruksi (EPCM), operator tambang, dan produsen.
  • Memperkuat manajemen modal kerja (working capital management)

3. Fokus Perencanaan Tenaga Kerja
Untuk memaksimalkan produktivitas tenaga kerja, perusahaan harus dapat mendefinisikan dengan baik asumsi tenaga kerja terhadap perusahaan, serta meningkatkan manajemen tenaga kerja, dengan cara:

  • Perkuat sinergi dengan memperjelas model bisnis dalam pengaturan tambang, pabrik, infrastruktur, dan LOB lainnya yang berkelanjutan.
  • Menghapus budaya self-rewarding (menguntungkan diri sendiri) khususnya dalam bagian pengadaan perusahaan dan pekerja di lapangan, dengan memberikan alternatif penghargaan kepada tenaga kerja yang transparan dan kompeten
  • Buat karyawan agar tetap terlibat melalui program pelatihan, pengembangan karir, dan lainnya.
  • Mengadopsi praktik kerja yang lebih hemat biaya, seperti kelompok kerja, pelatihan silang (cross training), dan pemanfaatan teknologi otomatisasi khususnya dalam hal peralatan kerja, pemantauan lapangan, dan alat keselamatan kerja.
  • Menigikutsertakan penduduk lokal sebagai solusi SDM dalam fungsi pekerjaan utama.

4. Manfaatkan Perkembangan Teknologi
Produktivitas dalam dunia tambang umumnya berhubungan dengan faktor-faktor hasil dalam satuan per unit waktu, per unit kualitas, dan per unit biaya. Perusahaan dapat menerapkan teknologi guna mencapai output yang diharapkan:

  • Gunakan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas di lokasi tambang.
  • Gunakan transformasi sistem IoT untuk mengatasi penggerak bisnis inti, seperti time management, allocation management, labor control, dan tarif operasi.
  • Ganti sistem pelaporan / reporting yang terhambat dengan dasbor manajemen yang disederhanakan untuk mempermudah pelaporan kinerja operasional secara aktual dan real-time.
  • Gunakan teknologi pada visibilitas produksi untuk mendapatkan gambaran jelas terkait operasional penambangan dari pit ke port.

5. Mengejar Keunggulan Operasional
Untuk menurunkan biaya secara berkelanjutan, perusahaan pertambangan dapat:

  • Evaluasi kembali model operasional untuk memastikan mereka memiliki sistem data dan pelaporan yang diperlukan untuk membangun budaya manajemen biaya.
  • Mengadopsi metodologi dari teknik Lean/Six Sigma, seperti analisis nilai pemegang saham untuk mengidentifikasi dan menutup kesenjangan efisiensi pada setiap aspek operasional.
  • Selalu belajar mengenai ilmu yang dapat dipetik dari industri lain yang lebih unggul, ataupun inovasi lainnya, misalnya dalam proses manufaktur, proses mobilisasi bahan, proses pemetaan, dan lainnya
  • Menanamkan budaya inovasi dalam kegiatan operasional sehari-hari tanpa mengurangi efektivitas aturan keselamatan kerja

6. Investasi dalam Analisa Data
Perusahaan tidak mungkin secara bersamaan mengurangi biaya kecelakaan kerja, biaya pemeliharaan, dan program biaya intensif lainnya hanya dengan mengurangi biaya komponen. Dengan memanfaatkan analitik data, perusahaan dapat:

  • Mengakses detil biaya dari seluruh proses untuk menemukan potensi pengeluaran yang tidak terlihat, ataupun yang tidak diperlukan.
  • Meningkatkan pengambilan keputusan dan kinerja aset dengan mengukur indikator finansial maupun non-finansial yang mempengaruhi profitabilitas secara keseluruhan.
  • Menggunakan data dari berbagai sumber, baik data historikal maupun data saat ini, untuk membantu meningkatkan pemanfaatan aset, meminimalisir waktu henti, merampingkan perencanaan tambang, dan mengoptimalkan sumber daya yang ada.
  • Gunakan metrik data dalam mengelola biaya operasional, seperti contoh: pengukuran kandungan mineral dari setiap beban sekop untuk menentukan posisi dibawah nilai batas atau tidak.

7. Rasionalisasi Rantai Pasok
Untuk mengurangi biaya, perusahaan seringkali meminta pemotongan konsesi biaya yang tinggi, maupun pemotongan suplai barang MRO sehingga operasional menjadi bersifat reaktif dan tidak berkelanjutan. Berikut ini adalah nilai-nilai yang dapat dilakukan perusahaan dalam merasionalisasi rantai pasok:

  • Bangun kemitraan dengan pemasok yang telah memberikan nilai lebih.
  • Negosiasi ulang dengan pemasok utama untuk memenangkan konsesi harga.
  • Merampingkan rantai pasok dengan mengintegrasikan proses di dalamnya, meliputi simplifikasi pengadaan, efisiensi penyimpanan, distribusi, dan memaksimalkan ketersediaan barang penting habis pakai di lokasi site.

Dari beberapa strategi yang telah disebutkan diatas, kita semua berharap dapat membawa dampak positif pada perkembangan industri di Indonesia, tidak terkecuali sektor pertambangan. Untuk itu, klikMRO secara aktif memberikan kemudahaan pengadaan melalui sistem digital procurement melalui platform online klikMRO.com, guna memaksimalkan kemudahaan proses pengadaan dan merampingkan proses pengadaan melalui efisiensi dan transparansi. Konsultasikan kebutuhan Anda bersama kami disini